(Puisi) Maaf Untuknya

Bogor, 6 Februari 2017.

Baru pagi tadi terlintas dibenakku,
Saat mendung dan gerimis
Menghiasi pagi yang abu
Dilangit ibukota yang sesaknya tak pernah terhapus.

Arlojiku menunjukan pukul 06.03 pagi

Kuucap sepatah kata, sebuah doa untukmu
“ Walaupun pagiku tak seindah senyummu,
tapi kuharap senjaku dapat menghiasi indahnya harimu.”
Tapi kurasa alam tak mengganguk, Dia tak setuju.

Senja ini kudengar gema dari baritone musholla
Kabar duka, tentang berpulangnya ibumu kepangkuanNya
Beliau beristirahat, setelah berjuang melawan penyakitnya
Lidahku kelu, telapak tanganku bergetar dengan halusnya

Maafkan aku,
Sungguh maafkanlah aku.
Maafkan imajinasi lancang penuh coretan tintaku.
Yang telah berani-beraninya mendoakanmu seperti itu.

Pagi tadi, entah mengapa begitu
Doa itu tergelincir begitu saja di helai-helai benakku
Tak biasanya, tak pernah kurasa itu
Seperti sebuah pertanda, semoga kejadian ini tidak mempengaruhi indahnya harimu

Tapi tidak, aku tau ini doaku ini tak berarti apa-apa.
Dan entah mengapa aku harus berucap doa.
Tak masuk akal, sungguh tak bisa ku mengerti kata.
Rangkaian doa yang seharusnya indah justru sangat memprihatinkan rasanya.

Tapi maafkanlah aku,
Dan langit-langit ibu kota pagi itu
Yang dengan lancangnya telah mendoakan mu.
Dan dengan beraninya mengucap kata indah untuk senjamu.

Sekali lagi aku berkata untukmu,
Maafkan aku,
Maafkan semua perkataan dan doa-doaku.
Aku turut berduka cita untukmu.

Komentar

Postingan Populer