(Puisi) Kau
KAU
Kau lagi, si lelaki dingin
Kau lagi, si lelaki acuh
Kau lagi, sang kepemilikan
Kau, yang tak pernah mendengarkan.
Sakit ini tak pernah ada artinya
Kau datang, lalu kau pergi semaunya
Tak ada lagi jingga, tak ada lagi senja
Tak ada lagi kita.
Haruskah ku berlutut padamu?
Agar tak mempermainkanku
Agar tak menarik-ulur ku begitu
Ku ingin kau tahu, kau segalanya bagiku
Untuk dunia yang besar ini, kau mungkin hanya satu orang
Tapi bagi satu orang, kau adalah dunianya
Dan orang itu aku
Tak bisakah kau menyadarinya?
Wahai lelaki pemilik wajah indah nan pualam
Tak perlu kau terus menggelam
Hapuskan lara dimata sendu nan sayu bagai malam
Ku datang bawa warna, terimalah wahai temaram
Tapi dengan santainya kau berkata padaku
aku yang tak pernah ada untukmu
perlukah aku mengirim seribu bunga cinta padamu?
Agar kau mengerti perasaanku
Besarnya perjuanganku untuk mendapatkan perhatianmu.
Komentar
Posting Komentar