(Cerpen) Kejahatan yang berujung

    Angin semilir berhembus dengan lembutnya, menerbangkan sebagian anak rambutku yang tak pernah mau menurut ini. Desiran suara kendaraan terdengar sangat jauh, seperti tak pernah ada di kota ini. Ku terdiam menghirup segarnya udara ibukota sore ini. Tak bisa, sungguh tak biasa. Ini bukan Jakarta yang biasanya penuh sesak dan polusi.
    Tak kupungkiri, Jakarta memang sudah lebih baik semenjak dipimpin oleh gubernur minoritas itu. Walaupun banyak kontroversi yang beliau tuai, tetapi hasil kerjanya sangat terasa untuk kota metropolitan ini.
     Kulihat gadis itu menginjakan kakinya di rumput-rumput itu dengan riangnya. Oh ibu, betapa indahnya hidupku ini. Jakarta, kotaku telah berubah menjadi lebih baik. Kotaku, sudah hampir mekar kembali untuk menunjukan kejayaannya.
     Indah, sungguh indah. Tak terpugkiri, ku terpesona. Rindangnya pohon-pohon ini terasa seperti candu untuk diriku sendiri. Ilalang menyentuh, ku terenyuh. Sudah lama tak kudapati tanaman ini.
     Sore itu, Jakarta serasa merangkul ku dengan keindahannya. Taman atap apartemenku ini selalu indah, untuk menatap ibukota yang tak pernah ada tidurnya.

#

     Pagi keesokan harinya aku kembali ke rutinitas ku. Kantor sesak nan kelam ini adalah tempat kerja rodiku. Ah, maaf aku hanya bercanda.
     Aku sedang duduk dikursi kebesaranku ketika seorang pejabat pemerintahan masuk ke ruanganku. Beliau datang untuk mengkonfirmasi harga untuk trainning minggu depan.
     “Selamat siang, pak Riano. Ini deal kesepakatan kita untuk biaya trainning besok.” Ucap beliau sembari membuka lembaran kesepakatan itu.
     Aku ternganga melihat harga yang tertera di lembaran itu, 97 juta. Tidak, ini salah. Harga akhir kesepakatan kami adalah 60 juta. Aku pun bertanya pada pejabat yang ada dihadapanku ini.
     “Maaf, pak. Sepertinya ini bukan harga akhir kita.”Ucapku.
     “Ah, iya pak. Tidak apa-apa, nanti kita bagi dua sisanya,” dia mengangkat tangannya untuk mengindikasikan bahwa itu hal biasa.
     “Bukankah, itu hal yang menguntungkan untuk kedua belah pihak?.” Lanjutnya lagi.
Tak ada lagi senyuman di raut wajahku, sinar mataku meredup. Pejabat ini salah menilaiku.
     “Maaf bapak, tapi jika seperti ini saya tidak bisa.” Ucapku sambil membuka pintu ruanganku, berkata agar dia segera keluar dari sini.
     Setelahnya, kantorku di coret dari daftar kolega salah satu kementrian tempat pejabat itu bekerja. Tak apa, aku tak mau mengkhianati negaraku sendiri. Tak boleh ada pencuri, tak boleh ada yang mencuri. Bahkan seorang Presiden pun.
     5 bulan setelahnya, ku dengar pejabat itu terkena jeratan pidana oleh KPK. Tuhan tau apa yang terbaik bagi negara ini. Lagipula, sepintar-pintar kancil melompat, pasti akan tertangkap jua.

#

     Deretan gedung gedung pencakar langit memenuhi mataku, sore sebelum matahari terbenam. Kuputuskan untuk berjalan ke taman atap apartemen, tempat langgananku untuk menghilangkan penat dari ibukota.
     Ku seduh kopi instan di cangkir yang dahulu pernah dibuatkan oleh ibu. Dia membuat tujuh buah cangkir keramik ini. dua untukku, dua untuk adikku, dan sisanya untuk kakakku.
     Dentingan lift menyadarkanku, pintu terbuka dilantai paling atas apartemen ini. Untuk menuju ke taman, aku harus menaiki satu lantai lagi menggunakan tangga darurat yang langsung menghubungkan ke atap.
     Sungguh, peluhnya udara Jakarta berubah dengan kesegaran tak terganti. Gadis riang yang pernah kulihat menari-nari diatap saat itu, sedang duduk. Ia melamun. Entah mengapa, sinar keceriaan di wajah itu meredup. Ku dekati ia, dan ternyata dia adalah anak dari pejabat yang tertangkap KPK itu.
     Aku rangkul gadis itu, dia menegang. Namun tidak lama, dia akhirnya membalas pelukanku. Dia menangis dipelukanku. Gadis itu mendongakan kepalanya dan menatapku, tersenyum getir. Tanganku gemetar, jantungku berpacu lebih cepat, pipiku memanas. Kurasa aku jatuh cinta dengan kepolosannya.

#

     Gerombolan anggota KPK mendatangi gedung apartemenku, mereka menggeledah apartemen pejabat itu. Gadisku menangis kembali. Tak kuasa, hatiku sakit melihatnya.
     Beberapa jam kemudian, ibu dari gadisku dibawa oleh KPK. Ternyata dia ikut andil dalam kasus korupsi suaminya itu. Gadisku tinggal sendiri.
     Akhirnya, gadisku pindah ke rumah neneknya yang berada di Belanda. Aku tak dapat lagi melihatnya tersenyum riang. Aku tak dapat lagi mendengarnya tertawa lepas, aku tak pernah lagi melihatnya bergerak lincah.
     Helai daun kuning luruh, merindunya aku jatuh. Tatap matanya yang teduh, aku tergugu. Aku rapuh. Kuharap, ia kembali.
     Langit Jakarta menggelap, kota ini telah merenggut kebahagiaan gadisku. Ternyata, kota ini tak pernah berubah sejak dulu. Selalu merenggut apa saja, dan selalu memberi apa saja. Kota ini, Jakartaku. Terlalu kejam untuk gadis kecilku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer